Finansial

Soal unrealized loss Rp 43 triliun di investasi saham, ini penjelasan BP Jamsostek

ILUSTRASI. Sejumlah peserta Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Ketenagakerjaan atau BPJAMSOSTEK memanfaatkan Layanan Tanpa Kontak Fisik (Lapak Asik). ANTARA FOTO/Arif Firmansyah/pras.

Reporter: Maizal Walfajri | Editor: Tendi Mahadi

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Anjloknya harga saham di sepanjang 2020, bisa memberikan potensi kerugian kepada kinerja investasi BPJS Ketenagakerjaan atau BP Jamsostek. Anggota Dewan Pengawas BP Jamsostek Inda D Hasman menyatakan ada doable loss akibat kondisi makro ekonomi sebesar Rp 43 triliun.

Deputi Direktur Hubungan Masyarakat dan Antar Lembaga BP Jamsostek Irvansyah Utoh Banja menyatakan investasi yang dilakukan oleh BP Jamsostek menyesuaikan Peraturan Pemerintah Nomor 99 Tahun 2013 dan Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2015 mengatur tentang batasan investasi BP Jamsostek, termasuk tentang investasi pada instrumen investasi terkait pasar modal seperti Saham dan Reksadana.

Ia menyatakan pada Desember 2020, sebanyak 25% dari dana kelolaan BP Jamsostek ditempatkan di Instrumen terkait pasar modal. Rinciannya surat utang 64%, saham 17%, deposito 10%, reksadana 8%, dan investasi langsung 1%.

Baca Juga: Duh, kerugian korupsi Asabri capai Rp 22 triliun, lebih besar dari kasus Jiwasraya

Unrealized loss BP Jamsostek merupakan kondisi penurunan nilai aset investasi saham atau reksadana sebagai dampak dari fluktuasi pasar modal yang tidak bersifat statis. Unrealized loss tidak merupakan kerugian,” ujar Utoh kepada Kontan.co.identity pada Kamis (28/1).

Lanjut Ia, selama tidak dilakukan realisasi penjualan aset investasi saham atau reksadana yang mengalami unrealized loss tersebut. BP Jamsostek hanya melakukan realisasi penjualan aset investasi pada saham atau reksadana yang dipastikan telah membukukan keuntungan.

Unrealized loss ini merupakan risiko yang tidak dapat dihindarkan setiap investor, termasuk BP Jamsostek, saat melakukan penempatan dana pada instrumen investasi di pasar modal seperti Saham dan Reksadana,” paparnya.

Kendati demikian, Ia menekankan, unrealized loss ini dipastikan akan mengalami restoration kembali, seiring dengan dinamika pasar modal bahkan berbalik menjadi unrealized acquire atau benefit. Hal ini bergantung kepada aset investasi yang memiliki kualitas elementary emiten bagus, seperti saham dalam indeks LQ45.

Baca Juga: Kemenkes: Biaya pengobatan dan perawatan corona ditanggung negara

Ia menyebut BPJamsostek memastikan 98% portofolio saham ditempatkan pada emiten berkategori LQ45 atau blue chip dengan elementary yang sangat baik. Sedangkan 2% pernah masuk deretan LQ45.

DONASI, Dapat Voucer Free of charge!

Dukungan Anda akan menambah semangat kami untuk menyajikan artikel-artikel yang berkualitas dan bermanfaat.

Sebagai ungkapan terimakasih atas perhatian Anda, tersedia voucer free of charge senilai donasi yang bisa digunakan berbelanja di KONTAN Store.



Related Articles

Back to top button